Ratoh Duek, Seudati, dan Peusijuek: Napas Adat Aceh Utara di Lhoksukon
Ratoh Duek, Seudati, dan Peusijuek hidup di Lhoksukon, ibu kota Aceh Utara. Napas adat yang dijaga warga di balik hiruk pasar dan kantor bupati.
Fakta Kunci
- Lhoksukon adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
- Ratoh Duek, Seudati, dan Peusijuek adalah tiga praktik adat Aceh yang masih dijumpai di kehidupan warga Lhoksukon.
- Ratoh Duek dibawakan sekelompok penari pria dengan syair berbahasa Aceh dan gerak badan yang dinamis.
- Seudati adalah tarian Aceh tanpa alat musik, irama dibentuk dari tepukan dada, tepukan tangan, dan hentakan kaki.
- Peusijuek adalah ritual tepung tawar memakai beras, air, dan daun, dipakai pada pernikahan, kelahiran, dan peresmian.
Napas Adat di Kota Kecil Antara Pasar dan Kantor Bupati
Pagi di Lhoksukon mulai dari pasar. Pedagang menata ikan asin, kopi, dan gula, sementara angkot menunggu penumpang menuju kawasan Cot Girek atau Panton Labu. Di kota kecamatan yang juga ibu kota Kabupaten Aceh Utara ini, hiruk ekonomi berjalan berdampingan dengan adat yang belum dilepas warga.
Lhoksukon bukan kota besar. Namun sebagai pusat pemerintahan kabupaten, ia menampung kantor bupati, kantor dinas, sekolah, masjid, dan balai pertemuan. Dari balai inilah suara tepukan Ratoh Duek dan syair Seudati sering bergema saat ada pernikahan, kenduri, atau acara resmi. Bagi warga, tiga nama itu bukan benda museum. Mereka hadir di halaman rumah, di aula, dan kadang di panggung jalanan saat hajatan.
Yang membuat Lhoksukon menarik adalah posisinya sebagai titik temu. Orang dari pesisir utara, dari pedalaman Aceh Utara, dan dari kota-kota sekitar bertemu di sini. Adat yang dibawa masing-masing kampung tidak hilang; ia saling menyesuaikan. Ratoh Duek, Seudati, dan Peusijuek menjadi bahasa bersama ketika warga ingin menandai momen penting.
Ratoh Duek dan Seudati: Suara Tubuh dari Aceh
Ratoh Duek dibawakan sekelompok penari pria. Mereka duduk berbaris, menabuh dada, menepuk tangan, dan menghentakkan badan. Syairnya berbahasa Aceh, berisi nasihat, kisah, atau pujian. Di Lhoksukon, Ratoh Duek kerap tampil pada acara pernikahan dan kenduri. Durasi dan jumlah penari bisa menyesuaikan kebutuhan tuan rumah, tetapi pola dasarnya tetap: gerak serempak, suara lantang, dan irama yang dibentuk dari tubuh sendiri.
Seudati juga hidup di Aceh Utara. Tarian ini tidak memakai alat musik. Dua penari utama memimpin, diikuti penari lain, sementara syahi atau penyanyi mengiringi dengan syair. Tepukan dada, tepukan tangan, dan hentakan kaki menjadi pengganti rebana. Di Lhoksukon, Seudati biasanya dipentaskan pada malam hari, di halaman atau aula, saat warga ingin menyambut tamu atau merayakan sesuatu.
Baik Ratoh Duek maupun Seudati mengandung nilai yang sama: kebersamaan, disiplin, dan keberanian. Penari harus hafal gerak dan syair. Tidak ada pemain tunggal yang menonjol; semua bergerak sebagai satu tubuh. Bagi warga Lhoksukon, menonton dua tarian ini berarti menonton kerja sama kampung yang dipertunjukkan di depan umum.
Pelatihannya tidak selalu formal. Anak-anak belajar dari ayah, paman, atau tetangga. Di beberapa desa sekitar Lhoksukon, latihan dilakukan di meunasah atau balai desa pada malam hari. Tidak ada bayaran besar; yang ada adalah kebanggaan bisa tampil saat kampung punya hajat.
Peusijuek: Tepung Tawar yang Menutup dan Membuka Babak
Peusijuek adalah ritual tepung tawar. Warga menyiapkan beras, air dalam mangkuk, dan daun-daun tertentu. Beras ditaburkan, air dipercikkan, dan daun diusapkan ke tangan atau kepala orang yang diberi doa. Di Lhoksukon, Peusijuek hadir pada pernikahan, kelahiran anak, khitanan, pindah rumah, dan peresmian usaha. Tujuannya bukan sekadar seremonial; ia penanda bahwa sebuah babak baru dibuka dengan restu keluarga dan tetangga.
Yang menarik, Peusijuek sering menjadi jembatan antara Ratoh Duek dan Seudati. Pada sebuah hajatan, Peusijuek bisa dilakukan sebelum atau sesudah tarian. Setelah syair dan tepukan selesai, tetua kampung maju membawa mangkuk beras dan air. Tamu yang dihormati, pengantin, atau anak yang baru lahir kemudian dipeusijuek. Suasana berubah dari riuh menjadi tenang, lalu kembali ramai saat makan bersama.
Di Lhoksukon, Peusijuek tidak hanya milik keluarga tertentu. Tetangga ikut menyiapkan bahan, memasak, dan menata kursi. Biaya biasanya ditanggung bersama secara gotong royong, sehingga relatif terjangkau bagi warga biasa. Inilah wajah adat Aceh Utara: bukan pertunjukan mahal, tetapi kerja kolektif yang menandai bahwa seseorang tidak berjalan sendiri.
Bagi generasi muda, tantangannya nyata. Hiburan digital dan kesibukan kerja membuat waktu latihan berkurang. Namun di Lhoksukon, sekolah dan sanggar kadang mengundang pelatih untuk mengenalkan Ratoh Duek dan Seudati. Peusijuek sendiri lebih tahan karena melekat pada pernikahan dan kelahiran, dua peristiwa yang hampir selalu ada. Selama warga masih punya hajat, tiga napas adat ini punya panggung.
Cuplikan Video
Pertanyaan Umum
Apa itu Ratoh Duek?
Ratoh Duek adalah tarian Aceh yang dibawakan sekelompok penari pria dengan gerak duduk, tepukan dada dan tangan, serta syair berbahasa Aceh. Di Lhoksukon, tarian ini tampil pada pernikahan dan kenduri.
Apa beda Seudati dan Ratoh Duek?
Seudati dan Ratoh Duek sama-sama tarian Aceh tanpa alat musik. Seudati punya penari utama dan syahi yang memimpin syair, sedangkan Ratoh Duek lebih menekankan gerak serempak dan syair bersama.
Apa itu Peusijuek?
Peusijuek adalah ritual tepung tawar memakai beras, air, dan daun. Di Lhoksukon, ritual ini dipakai pada pernikahan, kelahiran, khitanan, pindah rumah, dan peresmian usaha.
Apakah adat ini masih dijumpai di Lhoksukon?
Masih, terutama saat hajatan warga. Ratoh Duek dan Seudati tampil di halaman atau aula, sementara Peusijuek menyertai momen pernikahan dan kelahiran. Pelatihan biasanya dilakukan di meunasah atau balai desa.